RANGKUMAN
“Sejarah
Perkembangan Bahasa Indonesia”
Dosen
Pengampuh:
Ady
Saputra, M.Pd
Di susun
oleh :
NAMA : WIRDANIANTI
NPM : 1640605014LOKAL : A
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
BORNEO TARAKAN
2017
A.
Pengertian
Bahasa
Bahasa
adalah penggunaan kode bahasa yang merupakan gabungan fenom sehingga membentuk
kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Bahasa
memiliki berbagai definisi bahasa sebagai berikut:
1. Suatu sistem untuk
mewakii benda tindakan gagasan dan keadaan.
2. Satu peralatan yang
digunakan untuk menyampaikan konsep riil mereka kedalam pikiran orang lain.
3. Satu kesatuan sistem
makna.
4. Satu kode yang
digunakan oleh pakar linguistik untuk membedakan antara bentuk dan makna.
5. Satu cabang yang
menempati tata bahasa yang ditetapkan. Contoh: (perkataan, kalimat, dan
lain-lain)
6. Satu sistem tuntunan
yang akan dipahami oleh masyarakat linguistic
.
B. Peresmian
Nama Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia dengan perlahan-lahan,
tetapi pasti, berkembang tumbuh terus. Pada waktu akhir-akhir ini
perkembangannya itu menjadi demikian pesatnya sehingga bahasa ini telah
menjelma menjadi bahasa modern, yang kaya akan kosakata dan mantap dalam
struktur.
Pada tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda kita
mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah Putusan Kongres Pemuda Indonesia Tahun 1928
ini berisi tiga butir kebulatan tekad sebagai berikut.
Pertama : Kami
putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kedua : Kami
putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami
putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Pernyataan yang pertama
adalah pengakuan bahwa pulau-pulau yang bertebaran dan lautan yang
menghubungkan pulau-pulau yang merupakan wilayah Republik Indonesia sekarang
adalah salah satu kesatuan tumpah darah yang disebut Tanah Air Indonesia.
Pernyataan yang kedua adalah pengakuan bahwa manusia-manusia yang menempati
bumi Indonesia itu juga merupakan satu kesatuan yang disebut bangsa Indonesia.
Pernyataan yang ketiga merupakan pengakuan “berbahasa satu”, tetapi merupakan
pernyataan tekad kebahasaan yang menyatakan bahwa kita bangsa Indonesia,
menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu bahasa Indonesia.
Dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda, resmilah bahasa
Melayu, yang sudah dipakai sejak pertengahan Abad VII itu, menjadi bahasa
Indonesia
C.
Sejarah
Perkembangan Bahasa Indonesia
Bahasa indonesia adalah varian bahasa
Melayu, sebuah bahasa Austronesia dari cabang-cabang bahasa sunda-sulawesi,
yang digunakan sebagai lingua franca di Nusantara kemungkinan sejak abad-abad
awal penanggalan modern.
Aksara pertama dalam bahasa Melayu ajau
Jawi ditemukan di pesisir tenggara pulau Sumatera, mengidikasikan bahwa bahasa
ini menyebar ke berbagai tempat di Nusantara dari wilayah ini, berkat
penggunaannya oleh kerajaan Sriwijaya yang menguasai jalur perdangangan.
Istilah Melayu atau sebutan bagi wilayahnya sebagai Malaya sendiri berasal dari
kerajaan Malayu yang bertempat di Batang Hari, Jambi, dimana diketahui bahasa
Melayu yang digunakan di Jambimenggunakan dialek “o” sedangkan dikemudian hari
bahasa dan dialek Melayu berkembang secara luas dan menjadi beragam.
Istilah Melayu atau Malayu berasal dari
kerajaan Malayu, sebuah kerajaan Hindu-Budha pada abab ke-7 di hulu sungai
Batanghari, Jambi di pulau Sumatera, jadi secara geografis semula hanya mengacu
kepada wilayah kerajaan tersebut yang merupakan sebagian dari wilayah pulau Sumatera. Dalam perkembangannya
pemakaian istilah Melayu mencakup wilayah geografis yang lebih luas dari
wilayah kerajaan Malayu tersebut, mencakup negeri-negeri di pulau Sumatera sehingga pulau tersebut disebut juga Bumi
Melayu seperti disebutkan dalam Kakawin Nagarakretagama.
Ibukota kerajaan Melayu semakin mundur
ke pedalaman kerena serangan Sriwijaya dan masyarakatnya diaspora keluar bumi Melayu, belakangan masyarakat
pendukungnya yang mundur ke pedalaman berasimilasi ke dalam masyarakat
Minangkabau menjadi Klan Malayu ( suku Melayu Minangkabau) yang merupakan salah
satu marga di Sumatera Barat. Sriwijaya berpengaruh luas hinggal ke Filipina
membawa penyebaran bahasa Melayu semakin luas, tampak dalam prasasti Keping
Tembaga Laguna.
Bahasa Melayu kuno yang berkembang di bumi
Melayu tersebut berlogat “o” seperi bahasa Jambi, Minangkabau, Kerinci,
Palembang dan Bengkulu. Semenanjung Malaka dalam Nagarakretagama disebut Hujung
Medini artinya Semenanjung Medini.
Dalam perkembangannya orang Melayu
migrasi ke Semenanjung Malaysia (Hujang Madini) dan lebih banyak lagi pada masa
perkembangan kerajaan-kerajaan islam yang pusat mandalanya adalah Kesultanan
Malaka, istilah Melayu bergeser kepada Semenanjung Malaka (Semenanjung
Malaysia) yang akhirnya disebut sebagai Semenanjunng Melayu atau Tanah Melayu.
Tetapi nyatanya bahwa istilah Melayu iru berasal dari indonesia. Bahasa Melayu
yang berkembang di sekita daerah Semenanjung Malakaberlogat “e”.
Kesultanan Malaka dimusnahkan oleh
Portugis tahun 1512 sehingga penduduknya diaspora sampai ke kawasan timur
kepulauan Nusantara. Bahasa Melayu Purba sendiri diduga berasal dari pulau
kalimantan. Suku Dayakyang diduga memiliki hubungan dengan suku Melayu konon di
Sumatera misalya Dayak Salako, Dayak Knayatn ( kendayan) dan Dayak Iban yang
semuanya berlogat “a” seperti bahasa Melayu Baku.
Penduduk asli Sumatera sebelummnya
kedatangan pemakai bahasa Melayu tersebut adalah nenek moyang suku Nias dan
suku Mentawai dalam perkembangannya istilah melayu kemudian mengalami perluasan
makna, sehingga muncul istilah Kepulauan Melayi untuk menamakan kepulauan
Nusantara.
Secara sudut pandang historis juga
dipakai sebagai nama bangsa yang menjadi nenek moyang penduduk kepulauan
Nusantara, yang dikenal sebagai rumpun
Indo-Melayu terdiri dari Proto Melayu (Melayu Tua/Melayu Polinesia) dan Deutero
Melayu (Melayu Muda). Setelah mengalami kurun waktu yang panjang sampai dengan
kedatangan dan perkembangannya agama Islam, suku Melayu sebagai etnik mengalami
penyempitan makna menjadi sebuah etnoreligius (Muslim) yang sebenarnya
didalamnya juga telah mengalami amalganasi dari beberapa unsur etnis.
M. Muhar Omtatok, seorang seniman
Budayaan dan Sejarahwan menjelaskan sebagai berikut : “Melayu secara puak
(etnis/suku), bukan dilihat dari faktor genekologi seperti kebanyakan puak-puak
lainnya. Di Malaysia, tetap mengaku berpuak Melayu walau nenek moyang meraka
berpuak Jawa, Mandailing, Bugis, Keling dan lainnya. Beberapa tempat di
Sumetera Utara, ada beberapa komunistas keturuna Batak yang mengaku oarang
Kampong-Puak Melayu.
Kerajaan Sriwijaya dari abad ke-7 Masehi
diketahui memakai bahasa Melayu (sebagai bahasa Melayu Kuna) sebagai bahasa
kenegaraan. Lima prasasti kuna yang
ditemukan di Sumatera bagian Selatan peninggalan kerajaan itu menggunakan
bahasa Melayu yang bertaburan kata-kata pinjaman dari bahasa Sanskerta,suatu
bahas Indo-Eropa dari cabang Indo-Iran. Jangkauan penggunaan bahsa ini
diketahui cukup luas, karenaditemukan pula dokumen-dokumen dari abad berikutnya
di pulau Jawa dan pulau Luzon. Kata-kata seperti sanudra, istri, raja, pura,
kepala, kawin dan kaca masuk pada periode hingga abad ke 15 Masehi.
Pada babd ke-15 berkembang bektuk yang
dianggap sebagai bahasa Melayu Klasik (classical Malay atau medievel Malay).
Bentuk ini dipakai oleh Kesultanan Malaka, yang perkembanganya kelak disebut
sebagai bahasa Melayu Tinggi. Penggunaannya terbatas dikalangan keluarga
kerajaan disekitar Sumatera, Jawa, dan Semenanjung Malaya. [butuh rujukan]
laporan portugis, misalnya oleh Tome Pires, menyebutkan adanya bahasa yang
dipahami oleh semua pedangan di wilayah Sumatera dan Jawa. Magellan dilaporkan
memiliki budak dari Nusantara yang menjadi juru bahasa diwilayah itu. Ciri
paling menonjol dari ragam sejarah ini adalahmulai masuknya kata-kata pinjaman
dari bahasa Arab dan bahasa Parsi, sebagai akibat dari penyebaran agama Islam
yanga mulai masuk sejak abad ke -12. Kata-kata bahasa Arab seperti,masjid, kalbu, kitab, kursi, selamat,
dan kertas , serta kata-kata Parsi seperi anggur, cambik, dewan,
saudagar,tamasya dan tembakau masuk pada periode ini. Proses penyerapan dari
Bahasa Arab terus berlangsung hingga sekarang.
Kedatangan pedagang Portugi, diikuti
oleh Belanda, Spayol, dan Inggris meningkatkan informasi dan mengubah kebiasaan
masyarakat pengguna bahasa Melayu. Bahasa Potugis banyak memperkaya kata-kata
untuk kebiasaan Eropa dalam kehidupan sehari-hari, seperti gereja, sepatu,
sabun, meja, bola, bulu, dan jendela. Bahasa Belanda terutama banyak memberi
pengayaan di bidang administrasi, kegiatan resmi (misalnya dalam upacara dan kemiliteran)
dan teknologi hingga awal abad ke-20. Kata-kata seperi asbak, polisi,
kulkas,knalpot,dan stempel adalah pinjaman dari bahasa ini.
Bahasa yang dipakai pendatang dari Cina
juga lambat laun dipakai oleh penutur bahasa Melayu, akibat kontak diantara
mereka yang mulai intensif dibawah penjajahan Belanda. Sudah dapat diduga,
kata-kata Tionghoa yang masuk biasanya berkaitan dengan perniagaan dan
keperluan sehari-hari, seperti pisau,tauge, tahu, loteng, teko, tauke, dan
cukong.
Jan Huyghen van Linschoten pada abad
ke-17 dan Alfred Russel Wallacce pada abad ke-19 menyatakan bahwa bahasa orang
Melayu/Melaka dianggap sebagai bahasa yang paling penting di “dunia timur”.
Luasnya penggunaan bahasa Melayu ini melahirkan berbagai varian lokal dan
temporal. Bahasa perdagangan menggunakan bahasa Melayu di berbagai pelabuhan
Nusantara bercampur dengan bahasa Portugis, bahasa Tionghoa, maupun bahasa
setempat. Terjadi proses pidginisasi di beberapa kota pelabuhan dikawasan Timur
Nusantara, misalnya di Manado, Ambon, Dan Kupang. Orang-orang Tionghoa di
Semarang dan di Surabaya juga menggunakan varian bahasa Melayu pidgin. Terdapat pula bahasa
Melayu Tionghoa di Batavia. Varian yang terakhir ini malah dipakai sebgai
bahasa pengantar bagi beberapa surat kabar pertama berbahasa Melayu (sejak
akhir abad ke-19). Varian-varian lokal ini secra umum dinamakan bahasa Melayu
Pasar oleh para peneliti bahasa.
Terobosan penting terjadi ketika pada
pertengahan abad ke-19 Raja Ali Haji dari istana Riau-Johor (pecahan kesultanan
Melaka) menulis kamus ekabahasa untuk bahas Melayu. Sejak saat itu dapat
dikatakan bahwa bahasa ini adalah bahasa yang full-fledged, sama tinggi dengan
bahasa-bahasa internasional pada masa itu, karena memiliki kaidah dan
dokumentasi kata yanng terdefinisi dengan jelas.
Hingga akhir abad ke-19 dapat dikatakan
terdapat paling dua kelompok bahasa Melayu yang dikenal masyarakat Nusantara:
Bahasa Melayu Pasar yang kolokial dan tidak baku serta Bahasa Melayu Tinggi
yang terbatas pemakaiannya tetapi memiliki standar. Bahasa ini dapat dikatakan
sebagai lingua franca, tetapi kebanyakan berstatus sebagai bahasa kedua atau
ketiga. Kata-kata pinjam.
Pemerintah kolonial Hindia-Belanda
menyadari bahwa bahasa Melayu dapat dipakai untuk membantuk administrasi bagi
kalangan pegawai pribumi karena penguasaan bahasa Belanda para pegawai pribumi
dinilai lemah. Dengan menyandarkan diri pada Bahasa Melayu Tinggi (kerena telah
memiliki kitab-kitab rujukan) sejumlah sarjana belanda mulai terlibat dalam
standardisasi bahasa. Promosi Bahasa Melayu pun dilakukan di sekolah-sekolah dan didukung dengan
penerbitan karya sastra dalam bahasa melayu. Akibat pilihan ini terbentuklah
“embrio” bahasa indonesia yang secara perlahan mulai terpisah dari bentuk
semula bahasa melayu Riau-Johor.
Pada awal abad ke-20 perpecahan dalam
bentuk baku tulisan bahasa Melayu mulai terlihat. Pada tahun 1901, indonesia
(sebagai Hindia-Belanda) mengadopsi ejaan Van Ophuijsen pada tahun 1904
Persekutuan Tanah Melayu (kelak menjadi bagian dari Malaysia) di bawah Inggris
mengadopsi ejaan Wilkinson. Ejaan Van Ophuysen diawali dari penytusunan kitab
Logat Melayu (dimulai tahun 1896) Vn Ophuijsen, dibantu oleh Nawawi Soetan
Ma’moer Dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim.
Intervensi pemerintah semakin kuat
dengan di bentuknya Commissie voor de Volkslectuur (“Komisi Bacaan Rakyat”-KBR)
pada tahun 1908. Kelak lembaga ini menjadi Balai Poestaka. Pada tahun 1910
komisi ini, dibawah pimpinan D.A. Rinkes, melancarkan program Taman Poestaka
dengan membentuk perpustakaan kecil di berbagai sekolah pribumi dan beberapa
instansi milik pemerintah. Perkembangan program ini sangat pesat, dalam dua
tahun terbentuk sekita 700 perpustakaan. Bahasa indonesia secara resmi diakui
sebagai “Bahasa Persatuan Bangsa” pada saat Sumpah Pemuda Tanggal 28 Oktober
1928. Penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional atas usulan Muhammad
Yamin, seorang politikus, sastrawan, dan ahli sejarah. Dalam pidatonya pada
Kongres Nasional kedua di Jakarta, Yamin mengatakan,
“Jika mengacu pada masa depab
bahasa-bahasa yang ada di Indonesia dan
kesusastraannya, hanya ada dua bahasa yang bisa diharapkan menjadi bahasa
persatuan yaitu bahasa Jawa dan Melayu. Tetapi dari dua bahas itu, bahasa
Melayulah yang lambat laun akan menjadi bahasa pergaulan atau bahasa
persatuan”.
Selanjutnya perkembangan bahasa dan
kesastraan, indonesia banyak di pengatuhi oleh sastrawan Minangkabau, seperti
Marah Rusli, Abdul Muis, Nur Sultan Iskandar, Sultan Takdir Alisyahbana, Hamka,
Roestan Effendi, Idrus, Dan Chairil Anwar. Sastrawan tersebut banyak mengisi
dan menambahkan perbendaharaan kata, sintaksis, maupun morfologi bahasa
indonesia.
D. Kongres Bahasa
Indonesia
Kongres bahasa Indonesia adalah
pertemuan rutin 5 tahunan yang diadakan oleh pemerintah dan praktisi bahasa dan
sastra Indonesia untuk mmembahas Bahasa Indonesia dan perkembangannya. Kongres
ini pertama kali diadakan dikota Solo pada tahun 1938. Pada mulanya kongres
diadakan untuk memperingati hari Sumpah Pemuda tetapi juga untuk membahas
perkembangan bahasa dan sastra Indonesia dan rencana pengembangannya. Berikut
ini beberapa penyelenggaraan yang telah dilaksanakan.
1.
Kongres
Bahasa Indonesia I
Tanggal
25-28 Juni 1938 dilangsunngkan Kongres Bahasa Indonesia I di Solo. Dari hasil
kongres itu dapat disimpulkan bahwa usaha pembinaan dan pengembangan bahasa
Indonesia telah dilakukan secara sadar oleh cendikiawan dan budayawan Indonesia
saat itu. Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatanganilah Undang-Undang Dasar 1945, yang salah satu
pasalnya (pasal 36) menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Tanggal
19 Maret 1947 diresmikan penggunaan ejaan Republik sebagai pengganti ejaan Van
Ophuijsen yang berlaku sebelumnya.
Untuk
melaksanakan Kongres Bahasa Indonesia I ini disusun Panitia Penyelenggara
sebagai berikut :
Ketua Kehormatan : Prof. Dr. Hoesein
Djajadiningrat
Ketua : Dr. Poerbatjaraka
Wakil Ketua :
Mr. Amir Sjarifoeddin
Penulis : Soemanang Armijin
Pane Katja Soengkana
Bendahara : Soegiarti, Mr.
Nj.Santoso-Maria Ulfah
2.
Kongres
Bahasa Indonesia II
Tanggal
28 Oktober s.d 2 November 1954
diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia II di Medan. Kongres ini merupakan
perwujudan tekad bangsa Indonesia untuk terus-menerus menyempurnakan bahasa
Indonesia yang diangkat sebagai bahasa kebangsaan dan ditetapkan sebagai bahasa
negara.
Tanggal 16 Agustus 1972
H. M. Soeharto, Presiden Republik Indonesia, meresmikan penggunaan Ejaan Bahasa
Indonesia yang Disempurnakan (EYD) melalui pidato kenegaraan di hadapan sidang
DPR yang dikuatkan pula dengan Keputusan Presiden No. 57 Tahun 1972.
Tanggal 31 Agustus 1972
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia
yang disempurnakan oleh Pedoman Umum Pembentukan Istilah resmi berlaku di
seluruh wilayah Indonesia ( Wawasan Nusantara).
Untuk melaksanakan kongres bahasa II ini disusun panitia
pennyelenggara sebagai berikut :
Ketua : Sudarsana
wakil ketua : Dr. Slemetmuljani
panitia I : Mangatas Nasution
paniati II : Drs. W.J.B.F. Tooy
panitia III : Nur St. Iskandar
Anggota : Pudjowijatno, Amir
Hamzah dan La Side
3.
Kongres
Bahasa Indonesia III
Tanggal 28 Oktober s.d
2 November 1978 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia III di Jakarta.
Kongres ini diadakan dalam rangka memperngati Sumpah Pemuda yang ke-50 ini
selain memperlihatkan kemajuan, pertumbuhan, dan perkembangan bahasa Indonesia
sejak tahun 1928, juga berusaha memantapkan kedudukan dan fungsi bahasa
Indonesia.
4.
Kongres
Bahasa Indonesia IV
tanggal 21-26 November
1983 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia IV di Jakarta. Kongres ini
diselenggarakan dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda yang ke-55. Dalam
putusannya disebutkan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia harus
lebih ditingkatkan sehingga amanat yang tercantum di dalam Garis-Garis Besar
Haluan Negara, yang mewajibkan kepada semua wrga negara Indonesia untuk
menggunkan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dapat tercapai semaksimal
mungkin.
5.
Kongres
Bahasa Indonesia V
Tanggal 28 Oktobe s.d 3
November 1988 diselenggarakan Kongres Bahasa Inonesia V di Jakarta. Kongres ini
dihadiri oleh kira-kira tujuh ratus pakar bahasa Indonesia dari selururh
Indonesia dan perserta tamu dari negara sahabat seperti Brunei Darussalam,
Malaysia, Singapura, Belanda, Jerman, dan Australia. Kongres itu ditandatangani
dengan dipersembahkannya karya besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa kepada pencinta bahasa di Nusantara, yakni
Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia.
6.
Kongres
Bahasa Indonesia VI
Tanggal 28 Oktober s.d
2 November 1993 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia Vindi Jakarta.
Pesertanya sebanyak 770 pakar bahasa dari Indonesia dan 53 peserta tamu dari
mancanegara meliputi Australia, Brunei Darussalam, Jerman, Hongkong, India,
Italia, Jepag, Rusia, Singapura, Korea Selatn, dan Amerika Serikat. Kongres
mengusulkan agar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa ditingkatkan statusnya
menjadi Lembaga Bahasa Indonesia, serta mengusulkan disusunnya Undang-Undang
Bahasa Indonesia
7.
Kongres
Bahasa Indonesia VII
Tanggal 26-30 Oktober
1998 diselenggarakan Kongres Bahasa Indonesia VII di Hotel Indonesia, Jakarta.
Kongres itu mengusulkan dibentuknya Badan Pertimbangan Bahasa.
8. Kongres Bahasa Indonsia
VIII
Pada bulan Oktober
tahun 2003, pra pakar dan pemerhati Bahasa Indonesia akan menyelenggarakan kongres Bahasa
Indonesia ke-VIII. Berdasarkan Sumpah Pemuda yang dicetuskan pada bulan Oktober
tahun 1928 yang menyatakan bahwa para pemuda memiliki satu bahasa yakni Bahasa
Indonesia, maka bulan Oktober setiap tahun dijadikan bulan bahasa. Pada setiap
bulan bahasa berlangsung seminar Bahasa Indonesia di berbagai lembaga yang
memperhatikan Bahasa Indonesia. Dan bulan bahasa tahun ini mencakup juga
kongres bahasa Indonesia.
9.
Kongres
Bahasa Indonesia IX
Dalam rangka peringatan
100 tahun kebangkitan nasional, 80 tahun Sumpah Pemuda, dan 60 tahun berdirinya
Pusat Bahasa, pada tahun 2008 dicanangkan sebagai Tahun Bahasa 2008. Oleh
karena itu, sepanjang tahun 2008 telah diadakan kegiatan kebahasaan dan
kesastraan. Sebagai puncak dari seluruh kegiatan kebahasaan dan kesastraan
serta peringatan 80 tahun Sumpah Pemuda, diadakan kongres IX Bahasa Indonesia
pada tanggal 28 Oktober -1 November 2008 di Jakarta.
Kongres tersebut akan
membahas lima hal utama, yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan
bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa media massa, kongres
bahasa ini berskala internasional dengan menghadirkan para pembicara dari luar dan
dalam negeri. Para pakar bahasa dan sastra yang selama ini telah melakukan
penelitian dan mengembangkan bahasa Indonesia di luar negeri sudah sepantasnya
diberi kesempatan untuk memaparkan pandangannya dalam kongres tahun ini.
10. Kongres
Bahasa Indonesia X
Kongres Bahasa
Indonesia yang ke sepuluh dilaksanakan di Jakarta, yakni pada tanggal 28
Oktober 2013. Kesimpulan dari kongres bahasa yang ke sepuluh ini ialah mentri
Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), merekomendasikan hal-hal yang perlu
dilakukan pemerintah. Rekomendasi tersebut berdasarkan laporan Kepala Badan
Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, serta paparan enam makalah pleno tunggal,
diantaranya 16 makalah sidang pleno panel, 104 makalah sidang kelompok yang
tergabung dalam selapan topik diskusi panel, dan diskusi yang berkembang selama
persidangan. Ketua Tim Perumus Kongres Bahasa Indonesia X Prof. Dr. Gufron Ali
Ibrahim, M.S.
Daftar Pustaka
Zulkifli, Erna
Wahyuni, M. Thobroni. 2012. Bahasa Indonesia Mengembangkan Keterampilan
Komunikasi Lisan dan Tulis di Perguruan Tinggi, halaman 1-14. Tarakan :
Penerbit Imperium Bekerjasama dengan Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra
Indonesia dan Daerah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Borneo
Tarakan
Suparlan
.2014. Panduan Lengkap EYD . Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar