RANGKUMAN
“FONOLOGI”
Dosen Pengampuh:
Ady Saputra, M.Pd
Di susun oleh :
NAMA : WIRDANIANTI
NPM : 1640605014
LOKAL : A
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017
A. Pengertian Fonologi
Fonologi berasal
dari bahasa Yunani fhone “bunyi” dan logos artinya ilmu, jadi secara bahasa Fonologi berarti
ilmu yang mempelajari tentang bunyi/ ucapan. Secara istilah Fonologi adalah
ilmu yang mempelajari bunyi ujaran yang dihasilkan oleh alat ucap manusia, Fonologi
merupakan cabang tata bahasa. Fonologi juga disebut tata bunyi. Dalam arti lain
Fonologi disebut
sebagai bagian tata bahasa yang menganalisis bunyi secara umum. Fonologi dalam
tuturan ilmu bahasa dibagi menjadi dua bagian yakni, fonetik dan fonemik. Beberapa pengertian Fonologi menurut
para ahli adalah bunyi bahasa yang
berfungsi dalam ujaran dan yang dapat membedakan makna yang menjadikan objek
salah satu disiplin linguistik
(Padeta 2003 : 3). Selanjutnya dalam Fonologi menjelaskan bahwa tata bahsa
memperhatikan persamaan dan membedakan antara bahasa yang satu dengan bahasa
yang lain Briere dalam Padeta (2003:3). Jika ditarik benang merahnya Fonologi
adalah merupakan tata bahasa yang membedakan makna antara objek/kata satu
dengan yang lainnya.
B.
Ilmu-Ilmu
yang terkait dalam Fonologi
Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi
fenom sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari
cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang berhubungan dengan penggunaan dan
pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian fonologi yang
mempelajari mengasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa
diproduksi oleh alat ucap manusia.
Jika bunyi ujaran yang keluar dari paru-paru tidak mendapat halangan maka
bunyi yang dihasilkan adalah vokal. Bunyi vokal yang dihasilkan dari
beberapa hal berikut;
a. Posisi bibir
(bentuk bibir ketika mengucapkan sesuatu bunyi)
b. Tinggi
rendahnya lidah (posisi ujung dan belakang lidah ketika mengucapkan bunyi).
c. Maju mundurnya
lidah (jarak yang terjadi antara lidah dan alveolum atau lengkung kaki gigi)
Untuk lebih
jelasnya, perhatikan diagram vokal berikut!
Depan
|
Pusat
|
Belakang
|
|
Atas
|
I
|
-
|
U
|
Tengah
|
E
|
e
|
O
|
Bawah
|
-
|
a
|
-
|
Jika bunyi
ujaran, ketika udara keluar dari paru-paru mendapat halangan maka terjadilah
bunyi konsonan. Halangan yang dijumpai bermacam-macam, ada hubungan
yang bersifat seluruhnya, dan ada pula yang sebagian yaitu dengan menggeser
atau mengadukan arus suara atau tabel sehingga menghasilkan konsonan yang
bermacam-macam pula. Pembagian fonem konsonsan dalam bahasa Indonesia, misalnya
berikut ini.
a. Konsonan
hambat, bersuara, bilabial; b
b. Konsonan
hambat, tak bersuara, bilibial: p
c. Konsonan
hambat, bersuara, bilabial:m, dan seterusnya.
Fonetik artikulatoris meneliti
alat-alat organik yang dipakai
untuk menghasilkan bunyi
bahasa. Fonetik organis,
atau fonetik artikulatoris, atau
fonetik fisiologis
mempelajari bagaimana mekanisme
alat-alat bicara yang
ada dalam tubuh manusia menghasilkan
bunyi bahasa.
Fonetik
akustik menyelidiki bunyi
menurut sifat-sifatnya sebagai
getaran udara. Fonetik
akustik menyangkut bunyi
bahasa dari sudut
bunyi sebagai getaran
udara, dari segi
bunyi sebagai gejala fisis. Bunyi-bunyi
diselidiki frekuensi getarannya, amplitudo, intensitas, dan
timbrenya oleh alat pembantu seperti oscillograph.
Fonetik auditoris mempelajari
bagaimana mekanisme telinga
menerima bunyi bahasa sebagai
getaran udara. Fonetik jenis
ini cenderung dimasukkan ke
dalam neurologi ilmu kedokteran.
Fonemik adalah ilmu
bahasa yang membahas tentang bunyi-bunyi bahasa sebagai (fonem) pembeda makna.
Apabila kita berujar lalu arus ujaran itu kita potong atas bagian-bagiannya,
dan bagian-bagian itu dipotong-potong lagi sampai pada unsur-unsurnya yang
terkecil maka arus ujaran yang terkecil itu disebut bunyi ujaran. Tiap bunyi ujaran dalam tiap bahasa mempunyai fungsi membedakan arti. Bunyi ujaran yang dapat
membedakan arti ini disebut fonem.
Dalam bahasa Indonesia, secara resmi ada tiga puluh dua buah fonem, yang
terdiri atas;
a. Fonem vokal 6
buah;a,i,u,e,o,∂
b. Fonem diftong 3
buah, oi,ai,ou
c. Fonem konsonan
23 buah,
Selain fonem
dan fonetik, hal yang perlu dipahami dalam berujar adalah intonasi. Intonasi mengatur tinggi-rendah, keras lunak, cepat
lambatnya suara dalam berujar sehingga ujaran dapat dipahami oleh pendengar.
C.
Alat
Ucap Bahasa
Fonetik
artikulatoris membicarakan cara-cara alat ucap untuk membentuk berbagai bunyi
bahasa. Dalam hal ini yang terlebih dahulu untuk dipelajari adalah alat ucap
dan bagian-bagiannya.
Alat-alat
ucap manusai yang dapat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa (fon) dibedakan menjadi
3 bagian :
1. Artikulator,
ialah alat-alat bicara manusia yang dapat bergerak secara leluasa dan dapat me
nyentuh bagian-bagian alat ucap lainnya (titik artikulasi) serta dapat
membentuk bermacam-macam posisi. Alat bicara semacam ini terletak dibagian
bawah atau rahang bawah. Alat ucap yang dimaksud artikulator seperti :
a) Bibir
bawah (labium)
b) Gigi
Bawah (dentum)
c) Ujung
Lidah (apeks)
d) Depan
Lidah (front of the tongue)
e) Tengah
Lidah (lamino)
f) Belakang
lidah (dorsum)
g) Akar
lidah
2. Titik
artikulasi, ialah alat-alat bicara manusia yang menjadi pusat sentuhan dan
bersifat statis. Alat-alat ini terdapat dibagian atas atau rahang atas.
Alat-alat ucap yang dimaksud seperti :
a) Bibir
atas (labium)
b) Gigi
atas (dentum)
c) Lengkung
kaki gigi atas (alveolum)
d) Langit-langit
keras (alatum)
e) Langi-langit
lunak (velum)
f) Anak
tekak (uvula)
3. Alat-alat
lain, yang dimaksud ialah alat-alat bicara selain artikulator dan titik
artikulasi yang dapat menunjang terjadinya bunyi bahasa. Alat ucap yang
dimaksud seperti :
a) Hidung
(nose)
b) Rongga
Hidung (nasal cavity)
c) Rongga
Mulut (oral cavity)
d) Pamgkal
Kerongkongan (laring)
e) Katup
Jakun (epiglotis)
f) Pita
Suara
g) Pangkal
Tenggorokan (laring)
h) Batang
Tenggorokan (trakea)
i)
Paru-paru
j)
Sekat Rongga dada
(diafragma)
k) Saraf
Diafragma
l)
Selaput Rongga Dada
(pleural cavity)
m) Bronchus.
D.
Manfaat
Fonologi
Ejaan
adalah peraturan penggambaran atau pelambangan bunyi ujar suatu bahasa. Karena bunyi ujar adalah 2
unsur yaitu, segmental dan suprasugmental, ejaanpun menggambarjkan atau
melambangkan kedua unsur bunyi tersebut.
Perlambangan
usur segmental bunyi ujar tidak hanya bagimana melambangkan bunyi-bunyi ujar dalam
bentuk tulisan atau huruf, tetapi juga bagaimana menuliskan bunyi-bunyi ujar
dalam bentuk kata, frasa, klausa, dan kalimat, bagiamana memenggal suku kata,
bagaimana menulis singkatan, nama orang, lambang-lambang teknis keilmuan dan
sebagainya. Perlambangan unsur suprasugmental bunyi ujar menyangkut bagaimana
melambangkan tekanan, nada, durasi, jeda, dan intonasi. Perlambangan unsur
suprasugmental ini dikenal dengan istilah tanda
baca atau pungtuasi.
Tata
cara penulisan
bunyi ujar ini biasa memanfaatkan hasil kajian fonologi, terutama hasil kajian
fonemik terhadap bahasa yang bersangkutan. Oleh karena itu, hasil kajian
fonemik terhadap ejaan suatu bahsa disebut ejaan fonemis.
E. Penjelasan
alat ucap
No
|
Bunyi bahasa
|
huruf
|
Penjelasan
|
1
|
A
|
Keadaan bibir hampar, Depan lidah diturunkan
serendah mungkin, Anak tekak dan lelangit lembut dinaikkan bagi menutup
rongga hidung supaya udara tidak keluar melalui rongga hidung, Udara dari
paru-paru ke luar ke rongga mulut, Pita suara digetarkan.
|
|
2
|
I
|
ujung lidah dikenakan pada gusi, Lelangit lembut dan
anak tekak dinaikkan ke belakang rongga hidung untuk membuat sekatan arus
udara dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara dirapatkan, Arus udara dari
paru-paru keluar ke rongga mulut
dengan menggetarkan pita suara, Arus udara dibiarkan keluar melalui
tepi lidah sahaja.
|
|
3
|
U
|
Keadaan bibir hampar, Belakang lidah dinaikkan
setinggi mungkin ke arah lelangit lembut tetapi tidak sampai menyentuh
lelangit lembut, Anak tekak dan lelangit lembut dinaikkan bagi menutup rongga
hidung supaya udara tidak keluar melalui rongga hidung, Udara dari paru-paru
ke luar ke rongga mulut, Pita suara digetarkan.
|
|
4
|
E
|
Keadaan bibir hampar, Depan lidah dinaikkan setinggi
yang mungkin ke arah gigi gusi, Anak tekak dan lelangit lembut dinaikkan bagi
menutup rongga hidung supaya udara tidak keluar melalui rongga hidung Udara
dari paru-paru keluar ke rongga hidung Pita suara digerarkan
|
|
5
|
O
|
Keadaan bibir hampar, Belakang lidah dinaikkan
separuh tinggi ke arah lelangit lembut
tetapi tidak sampai menyentuh lelangit lembut, Anak tekak dan lelangit lembut
dinaikkan bagi menutup rongga hidung supaya udara tidak keluar melalui rongga
hidung, Udara dari paru-paru ke luar ke rongga mulut Pita suara digetarkan.
|
No
|
Bunyi bahasa
|
huruf
|
penjelasan
|
|
1.
|
ai
|
Untuk
membunyikan diftong ai, lidah berada pada kedudukan membunyikan vokal hadapan
luas [a], dan secara cepat geluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal
hadapan sempit [i]. Hujung lidah dinaikkan tetapi tidaklah setinggi
membunyikan vokal [i]. Hujung lidah terkena pada gigi bawah. Lelangit lembut
dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak. Glotis dirapatkan dan pita suara
bergetar. Buka antara rahang adalah antara luas dan sederhana dan bibir
dihamparkan.
|
||
2.
|
Oi
|
Bunyi
diftong terhasil apabila bunyi satu vokal menggeluncur dengan cepatnya ke
satu vokal yang lain. Caranya ialah
lidah, pada mulanya, diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal, kemudian
digeluncurkan ke arah membunyikan
vokal yang lain lalu menjadi gabungan dua bunyi vokal. Untuk membunyikan
diftong oi pula, lidah diletakkan sebagaimana menghasilkan bunyi vokal belakang separuh sempit [o], dan dengan
cepatnya digeluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit
[i]. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak.
|
||
3.
|
Au
|
Bunyi
diftong [Au] ini dihasilkan dengan kedudukan lidah secara anggarannya pada
posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya beralih kepada bunyi vokal
belakang tertutup [u]. walaubagaimanapun bahagian belakang lidah ini tidak
benar menaik seperti mana melafazakn bunyi[u]. bentuk bibir pada mulanya
tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir selesai lafaz bunyi ini
bentuk bibir menjadi bundar. Hujung lidah hampir-hampir menyentuh gigi depan
bahagian bawah dan pembukakan rahang antara sederhana dan luas.
|
||
No
|
Bunyi bahasa
|
huruf
|
penjelasan
|
1
|
Fonem konsonan
|
B
|
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang
dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
|
2
|
C
|
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian
samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.
|
|
3
|
D
|
Ujung lidah secara ringan menyantuh gusi atas,
jentikannya diawali oleh desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan.
|
|
4
|
F
|
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.
|
|
5
|
G
|
Pita suara dirapatkan, Arus udara dari paru-paru
yang keluar melalui rongga mulut mengetarkan pita suara, Bunyi yang
dihasilkan ialah letupan lelangit lembut bersuara [g].
|
|
6
|
H
|
Langit-langit bagian yang lunak sejenak
memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.
|
|
7
|
J
|
Depan lidah diangkat tinggi ke arah gusi, Bibir di
hamparkan, Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat
udara dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara digetarkan sambil lidah
bergerak pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal [j], Bunyi yang
dihasilkan ialah bunyi separuh vokal lelangit keras bersuara [j]
|
|
8
|
K
|
Belakang lidah dirapatkan ke lelangit lembut untuk
membuat sekatan penuh pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak
dirapatkan ke rongga tekak bagi menyekat arus udara dari paru-paru ke rongga
hidung, Pita suara di renggangkan, Arus udara keluar dari paru-paru melaui
rongga mulut tanpa menggetarkan pita suara, Sekatan udara yang dibuat oleh
belakang lidah dilepaskan serta merta. Bunyi yang dihasilkan ialah letupan
lelangit lembut tidak bersuara [k]
|
|
9
|
L
|
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas,
tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara
dapat melintas dari sisi-sisinya
|
|
10
|
M
|
Bibir bawah dan bibir atas dirapatkan untuk membuat
sekatan pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk
memberikan laluan arus udara dari paru-paru ke rongga hidung, Arus udara dari
paru-paru masuk ke rongga mulut dan terus ke rongga hidung, Pita suara dirapatkan untuk membuat getaran, Arus udara dilepaskan perlahan-lahan.
|
|
11
|
N
|
Depan lidah dinaikkan ke lelangit keras untuk
membuat sekatan arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk
memberikan laluan arus udara yang terkeluar dari paru-paru ke rongga hidung,
Pita suara dirapatkan dan digetarkan, Arus udara daripada paru-paru melalui
rongga mulut dan terus ke rongga hidung, Udara yang tersekat oleh depan lidah
dan lelangit keras dilepaskan pelahan-lahan
|
|
12
|
P
|
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk,
[B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara
|
|
13
|
Q
|
Suara badan lidah (dorsal) aspirasi. Lafalkan
seperti konsonan ch dalam bahasa Indonesia
|
|
14
|
R
|
Ujung lidah
digetarkan hingga menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.
|
|
15
|
S
|
Suara lidah pada gigi depan bagian dalam (dental).
Ujung lidah menuju gigi atas bagian dalam, lalu lafalkan konsonan s
|
|
16
|
T
|
Ujung lidah ditempatkan (bukan diletakkan) menyentuh
gusi tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan lepas dari posisi, ledakan kecil
dari udara dihembuskan.
|
|
17
|
V
|
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas,
tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara
dapat melintas dari sisi-sisinya.
|
|
18
|
W
|
Bibir di bundarkan, Belakang lidah dinaikkan ke lelangit
lembut, Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat
arus udara udara dari paru-paru ke rongga hidung, Udara dari paru-paru keluar ke rongga
mulut, Pita suara digetarkan dan lidah bergerak dengan pantas ke kedudukan
untuk membunyikan vokal tengah [w].
|
|
19
|
X
|
suara badan lidah (dorsal). Lafalkan mirip konsonan
s, dalam bahasa Indonesia, namun dilafalkan dengan badan lidah bukan dengan
ujung lidah.
|
|
20
|
Y
|
Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkan lidah,
seolah hanya memberi sedikit ruang pada mulut bagian atas.
|
|
21
|
Z
|
Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih
berat
|
No
|
Bunyi bahasa
|
huruf
|
Penjelasan
|
1.
|
Fenom kluster
|
Kh
|
Ujung lidah bersentuhan dengan langit lembut
|
2.
|
Ny
|
Tengah lidah bersentuhan dengan langit-langit kasar
|
|
3.
|
Ng
|
Ujung lidah ditempatkan dibelakang dan diatas gigi
atas bagian depan, pojok (bagian belakang dari lidah) diangkat dan bergerak
sejauh mungkin. lakukan NG seperti mengucapkan (singing- sangsung).
|
|
4
|
Sy
|
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik
kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah
bergerak ke atas.
|
DAFTA PUSTAKA
Suparlan .2014. Panduan Lengkap EYD . Yogyakarta:
Pustaka Baru Press.
Zulkifli, dkk.
2014 . Bahasa Indonesia . Tarakan : Himpunan
Dosen Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah.
https://Mata%20Kuliahh/Smester%20II/IKD/Nurfitri%20Ramdhani%20%20Fakta,%20Hipotesis,%20Teori,%20dan%20Hukum%20ilmiah.htm
diakses 02 Maret 2017.
http://sadmito.blogspot.co.id/2008/12/vocal-konsonan.html
http://retibasa.blogspot.co.id/2010/09/normal-0-false-false-false-en-my-x-none.html